Kamis, 25 Juli 2013

KAJIAN NILAI-NILAI TATA SUSILA DALAM PURANA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM LINGKUNGAN KELUARGA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
     Agama Hindu sebagai agama tertua di dunia dikenal dengan ajaran agamanya yang sangat komprehensip. Agama Hindu dikenal dengan sebutan Sanatana Dharma atau kebenaran yang kekal abadi. Agama Hindu mengajarkan tolerasi yang sangat luas namun memiliki tujuan spiritualias yang tertinggi serta bebas dari kefanatikan. Ajaran-ajarannya tertuang dalam  nashkah-naskah maupun kitab-kitab suci Agama Hindu yang bersifat universal, memiliki filsafat yang tinggi, dan nilai-nilai ajarannya yang luhur dan agung. Berbicara mengenai naskah-naskah suci Agama Hindu, tidak dapat dilepaskan dari kepustakaan Sanskerta. Kepustakaan Sanskerta dapat digolongkan atas 6 pokok-pokok kepercayaan dan 4 pokok-pokok masalah duniawi. Bagian yang menyangkut  kepercayaan membentuk naskah-naskah suci Hindu yang dapat dipercaya kebenarannya. Sedangkan bagian yang menyangkut maslah duniawi merupakan bagian pengembangan kemudian dalam kepustakaan Sanskerta klasik. Naskah suci yang termasuk pokok-pokok kepercayaan tersebut adalah: 1) Sruti, 2) Smrti, 3) Ithiasa, 4) Purana, 5) Agama dan 6) Darsana (Dharmasrama, 2003 : 12).
     Sruti disebut Weda. Weda berasal dari akar kata Vid yang artinya mengetahui, dan Veda berarti pengetahuan. Dalam pengertian semantik, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, ajaran suci, atau kitab suci, sumber ajaran Agama Hindu.. Weda merupakan kebenaran abadi yang diwahyukan oleh Brahman kepada para rsi di India pada jaman dahulu kala. Pokok kepercayaan selanjutnya adalah Smrti yang tidak kalah pentingnya. Sruti merupakan sabda atau wahyu Tuhan, sedangkang Smrti adalah tradisi. Secara otoritas, Sruti merupakan otoritas utama sedangkan Smrti adalah otoritas kedua yang menjelaskan dan mengembangkan Dharma. Smrti menetapkan hukum-hukum yang mengatur kewajiban-kewajiban pribadi, keluarga, sosial dan warga negara Hindu. Pada masa lampau, masyarakat awam kurang tertarik untuk mempelajari Upanisad, karena kandunga filsafatnya yang agung sulit dipahami, sehingga para rsi mencoba menyampaikan ajaran-ajaran keagamaan melalui cerita-cerita bertemakan kepahlawanan nenek moyang pada jaman dahulu yang disisipi dengan ajaran agama. Cerita tersebut lebih dikenal dengan Ithiasa. Ithiasa yang cukup populer di kalangan masyarakat luas adalah Ramayana dan Mahabharata yang memberikan kita gambaran tentang ajaran-ajaran Agama Hindu yang agung.
     Purana menduduki posisi yang penting dan strategis dalam tata urutan Veda dan susastra Hindu. Kitab-kitab Ithiasa dan Purana dapat digolongkan sebagai gudang pengetahuan agama yang sangat besar. Kitab-kitab tersebut disusun oleh para rsi (human origin) yang dimaksudkan untuk menjabarkan ajaran suci Veda yang demikian luas, penuh kandungan spiritual, filosofis, moralitas, edukatif dan lain-lain (Titib, 2004:1). Dalam Kitab Sarasamuccaya 39 ditegaskan tentang pentingnya memahami Ithiasa dan Purana apabila ingin mempelajari ajaran Veda yaitu sebagai berikut :
     Ndan   Sang Hyang Veda paripurnakena sira, maka sadhana Sang Hyang Ithiasa, Sang Hyang Purana, apan atakut Sang Hyang Veda ring wwangakedik ajinya, ling nira, kamung hyang haywa tiki umara ri kami ling nira mangkana rakwa atakut
                  
Sarasamuccaya 39

            ”Veda itu hendaknya dpelajari dengan sempurna melalui jalan mempelajari Ithiasa dan Purana sebab Veda itu akan takut kepada orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya wahai tuan-tuan jangan datang padaku, demikian konon sabdanya karena takut”.

       Kata Purana berasal dari kata : pura dan ana sehingga menjadi kata purana. Pura berarti kuno atau jaman kuno, sedangkan ana berarti mengatakan. Purana dapat diartikan sebagai sejarah kuno atau jaman kuno yang isinya menceritakan tentang dewa-dewa, raja-raja, rsi-rsi kuno. Purana juga dapat diartikan sebagai cerita kuno, pencerita sejarah dan koleksi cerita. Tujuan disusunnya kitab Purana adalah  untuk memudahkan iserapnya ajaran suci Veda oleh umat yang awam, untuk membangkitkan mereka akan rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para devata melalui contoh-contoh konkrit, mitos, ceritra-ceritra, legenda, kehidupan orang-orangsuci, para raja dan orang-orang besar, cerita kias dan rangkaian sejarah dari kejadian – kejadian besar. Kitab-kitab Puraa bukan hanya ditujukan kepada para sarjana saja, melainkan yang terpenting adalah kepada orang-orang awam yang tidak dapat memahami ajaran filsafat yang tinggi dan bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajari kitab suci Veda. Ithiasa dan Purana dapat dikatakan sebagai sumber hukum Hindu yang komprehensip. Dalam Manava Dharma Sastra dijelaskan bahwa Weda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu sebagai berikut :
Veda khio dharma mulam
Smrti ile ca tad vidam,
Acarasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca

                                           Manavadharmasastra II.6
                                                                  
            ”Veda adalah sumber dari segala Dharma, kemudian barulah Smrti disamping Sila, Acara dan Atmanastuti”

     Dari kutipan sloka tersebut, dapat dijelaskan bahwa Sruti dengan Catur Weda Samhita beserta kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisadnya merupakan sumber dari segala Dharma, kemudian Smrti yang acuannya sangat  jelas yaitu kitab-kitab Dharmasastra. Selanjutnya tentang Sila dan Acara  tentunya harus merujuk pada kitab-kitab Ithiasa dan Purana, karena terdapat banyak kisah para rsi, raja maupun orang besar. Terdapat banyak cotoh perbuatan baik atau sila yang dapat diteladani dari para Maharsi ataupun orang bijak dalam kisah-kisah Ithiasa dan Purana, demikian pula halnya dengan tradisi, merujuk kepada kitab-kitab tersebut. Ruang lingkup Purana secara umum meliputi 5 topik pembahasan yaitu Sarga (penciptaan alam semesta), Pratisarga (penciptaan alam semesta yang kedua, Wamsa (keturunan raja-raja dan rsi-rsi), Manvantara (periodisai Manu), dan Wamsanucarita (deskripsi keturunan raja yang akan datang). Pokok-pokok ajaran Purana sesungguhnya memuat tiga hal utama yaitu tentang Panca Sradha atau lima bentuk keyakinan Agama Hindu, kemudian tentang Tata Susila khusunya berbicara mengenai dasar etika dan moralitas, Catur Purusa Artha, Catur Warna, selanjutnya pokok ajaran Purana membahas mengenai Acara Agama antara lain tentan Sadacara, tempat suci, Pancayadnya, tirta yatra, hari raya suci, sivaratri dan saraswati.
Selanjutnya dalam Purana dibahas juga mengenai pembagian jaman yang lebih dikenal dengan nama Catur Yuga atau empat jaman yaitu Krta Yuga, Treta Yuga, Dvapara Yuga dan Kali Yuga. Dalam Brahmanda Purana dijelaskan tentang karakter setiap Yuga tersebut. Pada  Krta Yuga  susunan  masyarakatnya sama (sejajar). Umat manusia selalu awet muda, mereka hidup tanpa kedengkian dan kejahatan. Mereka hidup dalam alam yang asli dan cuaca yang sangat menyenangkan. Selanjutnya pada Treta Yuga masyarakatnya menghentikan kebiasaan nomaden dan mulai menetap. Struktur manusia ditegakkan dalamsistem Varnasramadharma. Upacara ritual menjadi mode pada jaman ini. Karakter  Dvapara Yuga yaitu terjadi kemunduran dan  kekacauan kehidupan sosial, agama dan berbagai kondisi menuju kehancuran karena telah mendekati jaman Kali Yuga.setiap orang menginginkan kemasyuran dan kejayaan, cenderung melakukan upacara-upacara agama yang besar. Selanjutnya Kali Yuga memberikan beberapa indikasi diantaranya bahwa  laki-laki dan perempuan kehilangan sifat mulianya, para edagang dan politisi akan melakukan pekerjaan yang kotor, para pandita akan jatuh dan hidup dengan orang-orang hina. Para pekerja akan menjadi pemimpin seperti pandita, para pemimpin dan politisi mestinya melindungi masyarakat, malahan menjadi perampk rakyat. Pada era millenium seperti sekarang ini, karakter Kali Yuga sangat jelas terlihat seperti merosotnya moralitas generasi muda, kerakusan  oknum-oknum partai politik, penguasa yang sewenang-wenang dan tidak lagi mengutamakan kepentingan umum, kekerasan terjadi dimana-mana, pembunuhan, pencurian maupun perampokan, korupsi yang menjalar pada hampir sebagian besar instansi pemerintahan, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya mengundang keprihatinan banyak pihak. Berbagai macam upaya telah dilakukan pemerintah dan kalangan akademisi untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, namun justru permasalahn menjadi semakin kompleks. Lemahnya penidikan khusunya pendidikan karakter, merupakan salah satu indikator terkikisnya nilai moralitas bangsa saat ini. Pendidikan dewasa ini cenderung mengutamakan segi intelektualitas dengan tujuan agar mampu bersaing dalam dunia kerja kedepannya. Namun, di satu sisi, pendidikan moral dan etika maupun tata susila, belum mendapat perhatin penuh.
Pendidikan pada dasarnya dimulai dari lingkungan keluarga, sehingga diharapkan setelah anak tersebut masuk ke dalam lingkungan pendidikan formal maupun informal, mereka memiliki dasar yang cukup kuat untuk menangkal derasnya pengaruh globalisasi dewasa ini. Setiap keluarga tetntunya memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak-anak mereka, ada yang menggunakan media cerita atau dongeng, ada yang memanfaatkan tempat-tempat bersejarah seperti museum, ada yang mengajak anak mereka berkunjung ke panti asuhan, ada pula yang memanfaatkan teknologi informasi yang berkembang dewasa ini seperti televisi, internet dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, media pendidikan melalui cerita maupun dongeng, sudah sangat jarang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita, akibat dari gempuran teknologi mutakhir saat ini. Orang tua lebih tertarik untuk mengajak anak mereka menonton siaran televisi yang terkadang banyak menampilkan tayangan yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita, baik itu tentang kekerasan, kenakalan remaja, permusuhan, dan lain sebagainya yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir anak.
Berangkat dari pemikiran tersebut, dalama Agama Hindu sesungguhnya sudah terkandung ajaran tentang pendidikan etika, moralitas maupun tata susila yang bisa diamati dari cerita-cerita kepahlawanan seperti Ramayana dan Mahabharata, serta dengan mengacu kepada kitab-kitab Purana yang dirancang dan disusun sedemikian rupa oleh para Maha Rsi untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama melalui cerita-cerita tentang kehidupan para Rsi maupun raja-raja dan orang-orang besar ada jaman dahulu kala yang mampu membius para pembacanya untuk ikut larut dalam cerita tersebut dan diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan  uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan sebuah kajian tentang nilai-nilai tata susila dalam Purana yang dapat dijadikan media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga, sehingga terbentuk generasi muda yang suputra, berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur serta mampu menerapkan ajaran tata susila sesuai dengan koridor-koridor kegamaan yang tertuang dalam cerita-cerita Purana.

1.2. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian dan fenomena yang kerap terjadi di jaman Kali ini, maka permasalahan yang dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Pokok-pokok ajaran apa saja yang terkandung di dalam Purana ?
2. Ajaran tata susila apa saja di dalam Purana yang dapat dijadikan sebagai media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga?
3. Bagaimana peran keluarga dalam Pendidikan Agama Hindu?

1.2  Tujuan Penelitian
1.2.1        Tujuan Umum
            Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai tata susila dalam Purana yang dapat dijadikan sebagai media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga. Dengan mempelajari, menganalisis dan mendeskripsikan nilai-nilai  tata susila dalam Purana, diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda Hindu yang berbudi pekerti luhur dan memiliki etika dan tata susila yang luhur.
1.2.2        Tujuan Khusus
            Secara khusus, penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui Pokok-pokok ajaran apa saja yang terkandung di dalam Purana.
b.      Untuk mengetahui Ajaran tata susila apa saja di dalam Purana yang dapat dijadikan sebagai media      pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga.
c.       Untuk mengetahui bagaimana peran keluarga dalam Pendidikan Agama Hindu.

1.3  Manfaat Penelitian
1.3.1        Manfaat Teoritis
            Secara teoritis hasil peneLitian ini diharapkan :
a.       Dapat memberi kerangka teoritis yang lebih jelas mengenai nilai-nilai tata susila dalam Purana yang dapat dijadikan media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga.
b.      Dapat menjadi sebuah konsep atau contoh model yang jelas terhadap pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga.
1.3.2        Manfaat Praktis
            Secara praktis, hasil peneletian ini diharapkan dapat :
a.       Memperkaya kasanah pengetahuan tentang nilai-nilai tata susila dalam Purana sebagai media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga.
            Manfaat mendalam dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran dan strategi di dalam pemdidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga agar tercipta anak yang suputra, berbudi pekerti yang baik dan memiliki etika serta tata suila yang luhur.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Tata Susila
          Susila atau etika agama berasal dari kata “su”  yang berarti baik dan “sila” yang berarti tingkah laku. Susila agama dengan demikian berarti aturan-aturan yang baik mengenai tingkah laku yang harus dijadikan pedoman  hidup oleh manusia yang beragama, khususnya Agama Hindu (Suhardana, 2006 : 33). Tata susiladapat diartikan sebagai peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia (Mantra, 1983 : 5).  Sebagai mahluk sosial, manusia diharuskan untuk bekerjasama demi melangsungkan kehidupanya bak itu dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Susila adalah pelajaran dari apa yang benar atau baik dari prilaku. Ilmu susila menunjukkan jalan bagi manusia agar berkelakuan baik antara satu dengan yang yang lainnya, demikian pula terhadap makhluk ciptaan yang lainnya. Susila mengandung rinsip-prinsip sitematis tentang bagaimana seharusnya bertindak. Susila adalah prilaku yang benar atau sadacara (Dharmasrama, 2003 : 64).
Dalam kehidupannya, manusia tentunya harus memiliki pedoman  tingkah laku yang mengatur sikap dan prilakunya. Masyarakat Hindu sudah menyadari akan akan hal ini karena dalam keyakinan Agama Hindu mengenal ajaran tentang punarbhawa yaitu adanya kelahiran kembali setelah menikmati pahal baik maupun buruk dalam kehidupan sebelumnya. Menurut ajaran karmaphala, setiap perbuatan baik ataupun butuk akan memperoleh pahala baik dan buruk pula, tidak hanya pahala masuk alam sorga atau neraka, menyatu dengan Brahman yang disebut Moksha, namun adanya kelahiran berulang-ulang atau menjelma kembali sebagai manusia atau binatang dan tumbuh-tumbuhan tergantung dari kara yang dilakukan semasa hidup.
          Adapun landasan dasar susila bagi umat Hindu adalah Agama Hindu, sedangkan pedoman yang dipergunakan adalah Kitab Suci Weda dan kitab suci Agama Hindu lainya. Tata susila bertujuan untuk membina watak manusia untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang baik, menjadi putra bangsa dan menjadi manusia yang berpribadi mulia, serta membimbing merekauntuk mencapai kebahagiaan. Tata susila juga bertujuan menuntun seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan sesamanya dan akhirnya menuntun mereka untuk mencapai kesatuan jiwatman nya dengan paramatman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai tujuan dari Agama Hindu yaitu untuk mencapai Moksha. Selain daripada itu, tujuan dari susila Agama Hindu adalah untuk membina agar Umat hindu dapat menjaga hubungan yang baik danharmonis dengan sesamanya, untuk membina agar Umat Hindu dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur da untuk membina agar Umat Hindu selalu berbuat yang baik dan benar sesuai dengan ajaran yang tertuang dalam Kitab Suci Agama Hindu.. Dalam  kitab Sarasamuccaya ditegaskan tentang pentingnya berprilaku yang baik sebagai berikut :
          tasmad vakkayacittaisu nacaredasubham narah,
          subhasubham hyacarati tasya tasyasnute phalam

                   Sarasamuccaya 156

Oleh karenanya, inilah harus diusahakan orang, jangan biarkan kata-kata laksana dan pikiran melakukan perbuatan buruk, karena orang yang melakukan sesuatu yang baik, kebaikanlah diperolehnya, jika kejahatan merupakan perbuatanya, celaka yang ditemukan olehnya.


Ajaran tentang susila agama memang sangat penting dalam mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupanya, namun akan lebih penting lagi jika hal itu benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari untuk mencapai terwujudnya masyarakat yang berbudi pekerti luhur, seperti tertuang dalam kitb Sarasamuccaya sebagai berikut :
jyayamsamapi cilena vihinam naiva pujayet, api
sudram tu dharmajnam sadvrttam capi pujayet

                                              Sarasamuccaya 161

Meski brahmana yang berusia lanjut sekalipun, jika perilakunya tidak susila, tidakpatut disegani, biar orang sudra sekalipun, jika perilakunya berpegang kepada dharma dan kesusilaan, patutlah ia dihormati dan disegani juga, demikian kata sastra suci.

       Dalam Agama Hindu diajarkan mengenai aturan tingkah laku yang baik dan mulia atau lebih dikenal dengan tata susila yang mencakup beberapa hal antara lain sebagai berikut (Suhardana, 2006 : 34) :
a. Catur Marga yaitu empat jalan menuju kesempurnaan hidup.
b. Tri Kaya Parisudha yaitu tiga prilaku yang baik.
c. Panca Yama Brata  yaitu lima cara pengendalian diri.
d. Dasa Yama Brata yaitu sepuluh macam pengendalian diri.
e. Panca Niyama Brata  yaitu lima macam pengendalian diri lanjutan.
f. Dasa Niyama Brata yaitu sepuluh cara pengendalian diri lanjutan.
g. Dasa Dharma yaitu sepuluh perbuatan baik berdasarkan agama.
i. Catur Purusa Artha yaitu empat cara untuk memenuhi tujuan hidup.
j. Catur Paramita yaitu empat perbuatan yang luhur.
k. Tri Hita Karana  yaitu tiga cara mencapai kebahagiaan hidup.
       Selain aturan tingkah laku yang baik dan mulia tersebut, susila Agam Hindu juga mengajarkan tentang musuh-musuh yang ada dalam diri manusia meliputi :
a. Tri Mala yaitu tiga perbuatan yang tidak baik.
b. Tri Mala Paksa yaitu tiga perbuatan yang hina.
c. Sapta Timira yaitu tujuh jenis kemabukan.
d. Sad Atatayi yaitu enam perbuatan yang kejam.
e. Sad Ripu yaitu enam sifat yang buruk.
f. Dasa Mala yaitu sepuluh prilaku yang jelek
       Selanjutnya megenai pedoman dan ukuran tata susila mengacu kepada Kitab Suci Bhagavadgita. Sri Krisna telah membagi kecenderungan budi manusia kedalam dua bagian yaitu Daiwi Sampat atau mutu kedewataan, dan Asuri Sampat atau mutu keraksasaan. Daiwi sampat tersebut maksudnya adalah untuk menuntun perasaan manusia itu kearah keselarasan antara sesamamanusia. Lebih lanjut mengenai sifat-sifat Daiwi Sampat tersebut seperti tertuang dalam Kitab Bhagawadgita sebagai berikut :
abhayam sattvasamcuddhir
jnanayogawyavasthitih
danam damac ca yajnac ca
svadhyayas tapa arjavam

                                           Bhagawad Gita XVI.1

Tidak mengenal takut, berjiwa murni, bergiat untuk mencapai kebijaksanaan dan yoga, berderma, menguasai indra, berkorban, mempelajari ajaran-ajaran kitab suci, taat berpantang dan jujur.



ahimsa satyam akrodhas
tyagah cantir apaicunam
daya bhutesv aloluptvam
mardavam hrir acapalam

                                  Bhagawad Gita XVI.2

Tidak menyakiti mahkluk lain, berpegang kepada kebenaran, tidak pemarah, tanpa keterikatan, tenang, tidak memfitnah, kasih sayang kepada sesama makhluk, tidak dibingungkan oleh keinginan, lemah lembut, sopan dan berketetapn hati.



tejah, ksama dhrtih saucam,
adroho na timanita,
bhavanti sampadam daivim
abhijatasya bharata

                                           Bhagawad Gita XVI.3

Cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tidak iri hati, tanpa keangkuhan, semua ini adalah harta, dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat dewata (Daiwi Sampat)

Selanjutnya tentang Asuri Sampat adalah sifat-sifat sebaliknya yaitu yang mempunyai kecenderungan sifat memcah belah sifat-sifat jiwtma menjadi sifat keakuan atau ifat keraksasaan. Dalam Bhagawad Gita juga dijelaskan sebagai berikut :

dambho darpo”bhimanas” ca
krodhah parusyam eva ca,
ajnanam cabhijatasya
partha sampadam asurim

                                  Bhagawad Gita XVI.4

Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah keadaan mereka yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa, wahai Partha (Arjuna)



tri-vidham narakasyedam
dvaram nasanam atmanah,
kamah, krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

                                  Bhagawad Gita XVI.21

Tiga pintu gerbang ke neraka, menuju jurang kehancuran diri, yaitu kama, krodha dan lobha, oleh karena itu ketiganya harus ditinggalkan.


Agama adalah dasar dari tata susila yang kokoh, kuat dan kekal, ibarat sebuah bangunan yang didirikan, maka dasarnya harus mampu menopang bangunan tersebut. Apabila dasarnya tidak kokoh dan kuat, maka bangunan tersebut akan mudah roboh, demikian pula halnya dengan tata susila, apabila tidak dibangun atas dasaragama yang kokoh dan kekal, maka tata susila tersebut tidak mendalam dan tidak meresap dalam pribadi setiap individu. Susila adalah gerbang menuju realisasi Tuhan, karena tanpa kesempurnaan susila, tidak mungkin ada kemajuan spiritual atau realiasi. Pelaksanaan tata susila akan membantu kita untuk hidup dalam keselarasan dengan tetangga, kawan, anggota keluarga sendiri, dan sesama manusia.orang yang bermoral, yang secara ketat mengikuti prinsip-prinsip tata susila tidak akan pernah menyimpang satu inci pun dari jalan dharma atau kebajikan. Yudhistira telah mendapatkan reputasi yang  abadikarena pelaksanaan tata susilanya. Prilaku yang baik merupaan akar dari kemakmuran material dan spiritual, karena ia meningkatkan kemasyuran. Prilakulah yang memperpanjang kehidupan dan menghancurkan segala bencana dan kejahatan serta memberikan kebahagiaan abadi. Sri Krsna dalam Bhagawad Gita bersabda :
tasmac chastram pramanam te
karyakarya-vyavasthitau
jnatva sastra-vidhanoktam
karma kartum iharhasi

                                  Bhagawad Gita XVI.24

Biarlah kitab-kitab suci menjadi petunjukmu untuk menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh, setelah mengetahui apa ang dikatakan dalam aturan kitab suci, engkau hendaknya mengerjakan tugasmu di dunia ini.

Semua agama memiliki prinsip-prinsip dalam ajaran susilanya seperti “jangan membunuh, jangan menyakiti orang lain, sayangilah temanmu seperti dirimu sendiri”, akan tetapi mereka tidak memneri alasan yang jelas mengapa hal itu haru dilakukan. Tata susila Hindu sangat halus, luhur dan mendalam. Dasar dari tata susila Hindu adalah ada satu atman yang meresapi segalanya, Ia merupakan roh terdalam dari semua makhluk, yang merupakan kesadaran murni umum. Suatu konsep dalam Hindu yang dikenal dengan Tat Twam Asi, yang berarti Itu (Brahman) adalah Engkau (Atman). Sangat jelas bahwa Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah Atman (Kesadaran Murni). Atman atau sang diri adalah satu, satu kehidupan bergetar dalam semua makhluk. Jadi jika kita menyakiti makhluk lain, maka itu sam artinya dengan menyakiti diri sendiri, dan menyakiti Tuhan sebagai sumber dari Atman itu sendiri. Terdapat satu kehidupan, satu kesadaran umum dalam semua makhluk yang merupakan dasar dari prilaku yang baik dalam Agama Hindu. Inilah yang menjadi dasar dari susila dalam ajaran Agama Hindu.

2.2. Purana
     Ndan   Sang Hyang Veda paripurnakena sira, maka sadhana Sang Hyang Ithiasa, Sang Hyang Purana, apan atakut Sang Hyang Veda ring wwangakedik ajinya, ling nira, kamung hyang haywa tiki umara ri kami ling nira mangkana rakwa atakut
                  
Sarasamuccaya 39

            ”Veda itu hendaknya dpelajari dengan sempurna melalui jalan mempelajari Ithiasa dan Purana sebab Veda itu akan takut kepada orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya wahai tuan-tuan jangan datang padaku, demikian konon sabdanya karena takut”.
Chandogya Upanisad VII.1.2 dan VII2.1 menyatakan bahwa Purana dan Ithiasa adalah Weda yang kelima (ithiasa- puranam pancamam vedanam-vedam). Purana berasal dari kata pura + ana menjadi kata purana. Pura berarti kuno dan ana berarti mengatakan. Purana dapat diartikan sebagai sejarah kuno atau jaman kuno yang isinya menceritakan tentang dewa-dewa, raja-raja, rsi-rsi kuno. Purana juga dapat diartikan sebagai cerita kuno, pencerita sejarah dan koleksi cerita.         Matsya Purana menggambarkan bahwa Purana mengandung catatan kejadian-kejadian masa yang silam. Cerita cerita yang terdapat dalam kitab Purana sudah dikenal jauh sebelum sabda suci Veda. Dalam Ramayana (IV.62.13) kata purana berarti ramalan yang dibuat pada jaman purba. Rangacarya (seorang sarjana ahli Sanskerta) menyatakan bahwa purana berasal dari kata Pura dan  nava, pura berarti lama dan nava berarti baru. Purana berarti segala sesuatu tradisi yang baik dan selalu menarik untuk diceritakan kembali telah ada sejak jaman purba.
Purana merupakan salah satu susastra Veda (Hindu) yang di dalamnya penuh dengan ceritra keagamaan, memberi tuntunan bagi hidup dan kehidupan umat manusia. Dengan mempelajari Purana, umat yang awam terhadap ajaran agamanya lebih mudah memahami, menghayati, dan mengamalkannya. Dalam kitab-kitab Purana kita menjumpai berbagai aspek ajaran Agama Hindu, mulai dari teologi dan Sraddha (keimanan), moralitas (etika), berbagai aspek acara (ritual) termasuk berbagai tuntunan untuk berbhakti kepada-Nya.
Ruang lingkup Purana meliputi beberapa hal yang sering disebut dengan Panca Laksana atau lima unsur penting dalam kitab-kitab Purana,  yaitu : Sarga (ciptaan alam semesta yang pertama), Pratisarga (ciptaan alam semesta yang kedua), Vamsa (keturunan raja-raja dan rsi-rsi), Manvantara (perubahan dari Manu ke Manu), Vamsanucarita (diskripsi keturunan yang akan datang). Purana terdiri dari 18 kitab Maha Purana yang merupakan Purana utama dan 18 Kitab Upa Purana sebagai pelengkap dari Maha Purana. Maha Purana terdiri dari Brahmapurana, Padmapurana, Visnupurana, Sivapurana/Vayupurana, Bhagavatapurana, Naradapurana, Markandeyapurana, Agnipurana, Bhavisyapurana, Brahmavaivartapurana, Lingapurana, Varahapurana, Skandapurana, Vamanpurana, Kurmapurana, Matsyapurana, Garudapurana, Brahmandapurana. Selanjutnya ke-18 Maha Purana tersebut dikategorikan ke dalam 3 bagian yaitu purana yang bersifat Sattvika yang memuliakan Wisnu, Rajasika yang emuliakan Brahma, dan Tamasika memuliakan Siwa. Pada dasarnya, tujuan penyusunan kitab Purana adalah  untuk memudahkan diserapnya ajaran suci Veda oleh umat yang awam, untuk membangkitkan mereka akan rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para devata melalui contoh-contoh konkrit, mitos, ceritra-ceritra, legenda, kehidupan orang-orangsuci, para raja dan orang-orang besar, cerita kias dan rangkaian sejarah dari kejadian – kejadian besar. Kitab-kitab Puraa bukan hanya ditujukan kepada para sarjana saja, melainkan yang terpenting adalah kepada orang-orang awam yang tidak dapat memahami ajaran filsafat yang tinggi dan bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajari kitab suci Veda (Dharmasrama, 2003 : 26).
Penyusun kitab-kitab Purana adalah Maharsi Vyasa, putra Parasara, yang juga dikenal dengan nama Krisna Dvaipayana dalam kitab Varaha, dan disebut juga sebagai inkarnasi Visnu dalamkitab Brahma, Vayu, dan sebagai penjelmaan Siva menurut kitab Kurma Purana. Vyasa memerintahkan 4 orang sisyanya masing-masing Paila, Vaisampayana, Jaimini dan Sumantu untuk mengkodifikasikan Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda. Sisyanya yang ke-5 adalah Suta Romaharsana, dan kepadanya Vyasa mengajarkan Ithiasa dan Purana. Suta Romaharsana atau Lomaharsana, demikian dia disebut karena mampu membuat audiennya tertarik untuk mendengarkannya, yang mengakibatkan bulu roma yang mendengarkannya bergetar dan berdiri tegak, karena sentuhan dan kepiawaiannya bercerita. Di Indonesia, di masa lalu baik di Jawa ataupun di Bali hanya ditemukan satu dari 18 Purana yang ada, yakni Brahmanda Purana berbentuk prosa dan mempergunakan Bahasa Jawa Kuno, sedangkan 17 Purana lainnya, yang aslinya berbahasa Sanskerta tidak ditemukan di Indonesia. Kandungan isi dari kitab Brahmanda Purana ini antara lain tentang Adisimakrama sebagai tokoh sentral dari kitab Purana ini, Bhagavan Naimiseya, Bhagavan Romaharsana, yang merupakan seorang Sauti yaitu juru cerita yang disegani para rsi, penciptaan alam semesta, masa berlangsungnya alam semesta, lahirnya para rsi, Apsara, Gandharva, Raksasa, Daksa, menyelenggarakan upacara Yadnya, tentang Catur Varna (pilihan profesi masyarakat), Catur Asrama (Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha dan Bhiksuka), dialog antara Brahma dengan Nilalohita, Nilalohita dengan Daksa, Veda dan penjelasannya, cerita Maharsi Yajnavalkya, turunnya para Manu dan Manvantara, Veda dan penerima wahyu Veda, Raja Janaka menyelenggarakan Vidyasabha, Prthu, turunnya Sungai Gangga, gerakan matahari dan bintang-bintang, saptadvipa, saptasamudra, dan saptaparvata, dll
Pokok-pokok ajaran Purana sesungguhnya memuat tiga hal utama yaitu tentang Panca Sradha atau lima bentuk keyakinan Agama Hindu, kemudian tentang Tata Susila khusunya berbicara mengenai dasar etika dan moralitas, Catur Purusa Artha, Catur Warna, selanjutnya pokok ajaran Purana membahas mengenai Acara Agama antara lain tentan Sadacara, tempat suci, Panca Yadnya, tirta yatra, hari raya suci, Sivaratri dan Saraswati.
2.3. Media Pendidikan
Media berasal dari kata medium yang artinya perantara tau pengantar. Kata medium berasal dari bahasa latin, sehingga dapat dikatakan bahwa media merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar (Soetomo, 1993 : 197). Media dapat diartikan pula sebagai wadah pesan atau materi interaksi yang ingin disampaikan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Melihat pengertian tersebut, jika dikatikan dalam dunia pendidikan, maka wadah untuk penyalur pesan yang merpakan komunikasi interaksi dalam proses belajar mengajar umumnya disebut dengan Media Pendidikan. Untuk menyatukan persepsi, telah dipopulerkan istilah baru yaitu “ Media Pendidikan”. Oleh para ahli dalam kepustakaan asing menggunakan istilah Audible-Visual-Audio-Visual.
Media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan satu kesatuan yang menunjang keberhasilan dari pendidikan. Pendidikan memiliki ruang lingkup yang cukup luas, baik itu pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang sangat penting bagi setiap individu karena dengan memperoleh pendidikan, maka setiap individu mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Pendidikan pada era millenium seperti saat ini memang terlihat berbeda terutama dari segi media pendidikannya. Dewasa ini, media pendidikan lebih mengedepankan kepada penggunaaan media teknologi dan informasi, sedangkan pada jaman terdauhulu belum memanfaatkan media tersebut karena memang belum tersedia. Orangtua maupun guru pada jaman dahulu lebih dominan menggunakan cara tradisional dalam  menyampaikan suatu bentuk pendidikan, misalnya melalui cerita atau kisah-kisah kepahlawanan. Dalam ajaran Agama Hindu, terdapat beragam cara untuk menyampaikan ajaran-ajaran tentang Agama Hindu,  sala satunya dengan cara menceritakan kisah-kisah para dewa, rsi, dan raja-raja yang agung pada jaman dahulu yang dikenal dengan Ithiasa dan Purana. Dalam cerita-cerita Purana terkandung ajran tentang pokok-pokok keyakinan dalam Agama Hindu yaitu Panca Sradha, kemudian ajaran tentang Tata Susila, Sadacara, tentang tempat-tempat suci dan hari raya Agama Hindu. Nilai-nilai tata susila  yang terkandung dalam Purana tersebut sesungguhnya mampu dipahami dan diimplementasikan sebagai media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga khususnya. Terdapat cerita-cerita tentang prilaku orangsuci seperti para rsi yang dapat dijadikan teladan dalam kaitannya pendidikan anak, sehingga nantinya mampu mewujudkan generasi yang berbudi pekerti luhur serta memiliki etika dan tata susila yang berlandaskan ajaran Agama Hindu. Penelitian secara sederhana yang penulis lakukan memberikan gambaran bahwa cukup banyak masyarakat yang belum memahami dan bahkan tidak mengenal sama sekali ajaran-ajaran yang terkandung dalam Purana, padahal sesungguhnya Purana dapat dijadikan senjata ampuh untuk menyalurkan nilai-nilai pendidikan Agama Hindu kepada anak dalam lingkungan keluarga khususnya. Pendidikan yang dimaksud disini adalah bagaimana seorang anak bersikap, baik kepada orangtua maupun dalam pergaulan dengan sesama. Sebagai seorang anak, hendaknya memiliki sikap atau prilaku yang patuh dan taat, bukan saja kepada orang tua saja, melainkan yang lebih penting adalah taat kepada ajaran agama yangberdasarkan kitab-kitab suci. Ketaatan seorang anak dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari, seperti rajin dan ulet bekerja, dapat memelihara sopan santun dalam pergaulan, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal berbau negatif seperti narkoba, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentunya diperlukan suatu bentuk penyampaian nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang memuat ajaran-ajaran tata susila melalui cerita-cerita yang terkandung di dalam Purana, dan peran orang tua dalam menyampaikan makna yang tersirat dalam cerita-cerita Purana tesebut.
2.4. Keluarga
            Keluarga adalah sekolah yang pertama bagi berlangsungnya proses pendidikan, oleh karena itu peranan ibu sebagai guru yang utama dan perdana dengan kelembutan dan cinta kasih yang sejati menumbuhkembangkan pendidikan budhi pekerti kepada anak-anaknya. Indikator keberhasilan pendidikan budhi pekerti pad aanak dapat dilihat dari prilaku anak dirumah. Seorang anak yang memiliki budhi pekerti yang luhur senantiasa menunjukkan sikap dan prilaku yang membahagiakan orangtua dan keluarganya (Titib, 2003 : 27).          Pendidikan informal merupakan salah satu pendidikan diluar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga melalui berbagai bentuk metode dan kegiatan yang memberikan nilai-nila moral, etika, budi pekerti, keterapilan serta keyakinan agama serta tradisi-tradisi yang dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan anak-anak. Setiap orangtua sebagai pendidik hendakanya tidak melupakan atau mengabaikan anak mereka meskipun mereka terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menyita cukup banyak waktu. Orang tua yang menjauhi anak-anaknya dengan berbagai alasan, pada saat-saat tertentu akan sangat menyesal karena anak-anaknya bersikap tertutup dan sulit didekati. Menyediakan waktu yang cukup untuk pendidikan anak-anak dan membina kehidupan keluarga yang harmonis danmenyenangkan adalah tanggung jawab yang tidak bisa dielakkan, walaupun dengan alasan-alasan kesibukan pengabdian kepada masyarakat. Setiap anakmemerlukan kasih sayang orang tuanya dan orang tua mengharapkan agar anaknya berprilaku yang baik dan pintar. Kasih sayang serta penuh keikhlasan dalam membantu dan mengarahkan perkembangan anak seseungguhnya sudah menjadi kewajiban sebagai orang tua. Kasih sayang tidak dapat diganti dengan limpahan uang dengan tujuan agar anak-anak dapat melakukan segala sesuatu yang diinginkannya, tanpa menggangu kesibukan orangtuanya. Kasih sayang tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain atau melalui perantara orang lain walaupun belasan pembantu rumah tanggayang dapat menyelesaikan keperluan anak-anak. Orang tua tetap memegang peranan yang sangat penting dalam hal mendidik anak-anak, terutama dalam segi sikap dan prilaku anak.
            Orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga adalah sosok yang akan ditiru oleh anak-anak dalam membentk kebiasaan-kebiasaan hidup, yang secara langsung akan mempengaruhi kepribadian mereka. Orang tua tidak akan mungkin mengharapkan anak-anaknya melakukan sesuatu yang dinilainya baik, hanya dengan menyuruh dan menganjurkan saja, sedangkan dirinya sendiri tidak melakukannya. Sebagai contoh misalnya seorang anak yang disuruh bersembahyang oleh orangtuanya, sedangkan orangtuanya tidak pernah mengajarkan bagaimana cara bersembahyang, kapan saja harus bersembahyang, apalagi orangtuanya tidakpernah melakukannya secara teratu dan tertib, sehingga ha itulah yang akan ditiru oleh anak-anak. Peran orang tua sangat besar dalam mmebentuk kepribadian anak, karena pendidika yang paling mendasar adalah pendidikan dalam lingkungan keluarga.




















BAB III
PEMBAHASAN

3.1.    Pokok-Pokok Ajaran yang Terkandung di dalam Purana
                        Sebagai salah satu kitab suci Agama Hindu, tentunya Purana memiliki pokok-pokok ajaran yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan beragama Hindu khususnya. Adapun pokok-pokok ajaran dalam Purana sebagai berikut :
3.1.1. Panca Sradha
                        Dasar keyakinan dalam Agam Hindu yang dikenal dengan Panca Sradha menjadi salah satu pokok-pokok ajaran dari Purana. Lima bentuk keyakian dalam Agama Hindu secara lebih rinci yang terkandung di dalam Purana dapat dijelaskan sebagai berikut :
            a. Brahmavidya
                        Brahmavidya (teologi) di dalam Purana cukup jelas tertuang, dan memang hampir semua devata dipuja dalam kitab-kitab Purana termasuk devata yang memiliki kedudukan penting dan paling dikenal dalam Agama Hindu yaitu Dewa Brahma, Vishnu dan Siwa.  Demikian pula halnya dengan Dewa Agni maupun Indra yang banyak dipuja dalam kitab suci Veda, di dalam Purana mereka juga sering muncul dalam beberapa kisah. Dewa Indra disebut sebagai pimpinan para dewa. Dewa Varuna sebagai penguasa samudra juga kerap muncul beberapa kali. Dewa Surya menjadi sangat populer dalam kitab-kitab Purana, karena dari sekian kitab Purana, cukup banyak mengagungkan Dewa Surya beserta keturunan beliau seperti Manu Vaivaswata, Dewa Yama sebagai dewa penguasa orang yang telah meninggal terutama mereka yang memiliki kara buruk selama hidup di dunia, dan ketrurunan beliau selanjutnya yaitu devata kembar Asvin. Selain Dewa Surya, juga dikenal Dewa Vayu, kemudian Dewi Soma sebagai dewi bulan, Bhraspati sebagai pendeta di kahyangan, Gandharva seniman musik atau peyanyi di surga, dan Apsara sebagai bidadari kahyangan sebagai pengiring para devata, namun sering menggangu tapa para rsi. Selain para devata tersebut di atas, terdapat pula pihak yang dikategorikan golongan jahat seperti Asura yaitu para raksasa, daitya dan danawa. Dewa Kubera dan Vaisravana sebagai dewa kekayaan berada diantara para devata dan asura serta parapengikutnya yaitu yaksa dan guhyaka.
                        Dalam kitab-kitab purana, banyak yang mengagungkan salah satu dari ketiga manifestasi Tuhan yaitu Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Vishnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur alam semesta beserta isinya. Dalam Markandeya purana, Dewa Brahma disebut sebagai dewa tertinggai diantara dewa lainnya yaitu Dewa Vishnu dan Siwa. Berbeda halnya dalam Vishnu purana, yang diagungkan adalah Dewa Visnu sebagai dewa tertinggi,dan semua berasal dari Dewa Vishnu. Demikian pula halnya dalam kitab Siva Purana, yang mengutamakan pemujaan kepada Dewa Siva. Meskipun terdapat suatu bentuk pengangungan terhadap ketiga dewa tersebut, namun sesungguhnya ketiganya merupakan manifestasi dari Tuhan itu sendiri yang mempunyai tugas dan fungsi yang teramat penting dalam kehidupan (Tri Murti). Dalam Vayu Purana disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa mengambil wujud sebagai aksara suci Om (Omkara) yang merupakan kombinasi suara dari tiga huruf yaitu A,U dan M. Suara A merupakan wujud Dewa Visnu, suara U sebagai wujud Dewa Siwa, dan suara M sebagai wujud Dewa Brahma. Perpaduan AUM menjadi Om dikenal dengan nama “Pranawa” atau “Brahman” (Titib, 2004 : 257). Dalam kitab-kitab Purana juga dijelaskan tentang Brahman sebagai asal atau sumber dari segalanya di alam semesta ini.

            b. Atmavidya
            Kata atma atau atman berarti nafas, jiwa atau roh. Atman memberi kehidupan keada semua makhluk hidup di dunia sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang. Ketika seseorang meninggal, maka roh nya bergerak menuju alam atas megikuti udara di jalan yang didorong oleh roh leluhur menuju alam yang abadi. Seseorang yang memiliki kesempurnaan pengetahuan spiritual mencapai Brahman, sedangkan mereka ang kurang sempurna pengetahuan rohaninya akanmencapai sorga, namun setelah menikmati pahala dari perbuatan baiknya, akan kembali turun menjelma ke bumi. Untuk roh mereka yang bodoh akan menuju alam kegelapan yang merupakan pahal dari mereka yang berbuat jahat dan akan kembali menjelma ke bumi.
            Sorga adalah tempat roh suci para leluhur dan Dewa Yama. Roh orang yang meninggal akan berjumpa dengan roh suci leluhurnya, ibu, bapak, keluarga, anak dan istri, tidak ada penyakit disana dan tidak ada yang kaya maupun miskin, semuanya sama. Kitab Satapatha Brahmana menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan antara alam sorga (Svargaloka) yang merupakan sorga para deva dan alam leluhur (Pitraloka). Leluhur juga disembah seperti para dewa, dimohon rahmatnya dan memberi perlindungan kepada para penembahnya serta menghentikan pahala buruk dari keturunannya atas dosanya sebagai manusia yang dilakukan terhadapnya. Terdapat beberapa macam sorga yang dinikmati oleh mereka yang berbuat baik selama hidup diantaranya mencapai sorga Dewa Brahma atau Brahmapuri yang letaknya di puncak Gunung Mahameru.selanjutnya untuk roh yang berbuat jahat selama hidup akanmenikmati neraka.
            Dalam kitab-kitab Purana antara lain Devi Bhagavata III dan Visnu Purana II.6 disebutkan ada 28 jenis neraka,antara lain : 1) Tamasira untuk mereka yang mencuri kekayaan orang lain, termasuk istri orang, anak orang lain, dan lain-lain, diikat dengan tali dan dilemparkan ke neraka ini, 2) Andhatamisra yaitu neraka untuk seorang istri yang mengambil makanan dengan mencuri atau berbuat curang terhadap suaminya, demikian sebaliknya, siksaannya sama dengan di neraka Tamasira 3) Rauravam adalah neraka untuk mereka yang melakukan penyiksaan terhadap mahluk lain akanmenjelma menjadi ular yang menakutkan, 4)  Mahrauravam  untuk mereka yang rakus terhadap warisan yan bukan miliknya, 5) Kumbhipakam untuk mereka yahg melakukan pembunuhan dan memakan burung-burung dan binatang-binatang, 6) Kalasutra (Yamasutram) untuk mereka yang tidak hormat kepada orangtua, ayah, ibu danorang yang lebih tua, 7) Asi(ta) patram untuk mereka yang meninggalkan Swadharma, yakni tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya danmenerima Paradharma (bukan kewajibannya), 8) Sukkaramukham untuk para raja atau pemimpin yang suka menindas rakyatnya, 9)  Andhakupam untuk mereka yang melakukan penindasan terhadap Brahmana, menghina ara dewa dan orang-orang miskin, 10) Krmibhojanam untk para Brahman ayang rusak akhlaknya, yang menikmati makanan tanpa mempersembahkannya terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Maha Esa, 11) Taptamurti untuk mereka yang merampas atau mencuri emas, permata, 12) Salmali untuk mereka baik itu laki-laki atau perempuan yang berzina, 13) Vajrakantakasali untuk mereka yang melakukan hubungan seks tidak normal seperti berhubungan dengan binatang, 14) Vaitarani untuk para pemimpin yang melanggar hukum dan ajaran Agama, 15) Puyodakam untuk Brahmana yang melakukan hubungan seks dengan wanita murahan, 16) Pranodham untuk Brahana yang memelihara binatang yang kotor dan secara terus menerus berburu danmembunuh binatang untuk menyambung hidupnya, 17) Visasanam untuk mereka yang melakukan upacara yadnya dengan membunuh sapi untuk memamerkankekayaan, 18) Lalabhaksam untuk mereka yang tidak mampu mengedalikan nafsu, 19) Sarameyasanam untuk mereka yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketertiban masyarakat seperti membunuh, membantai, meracuni, 20) Avici untuk mereka yang menjadi saksi palsu, 21) Ayahpanam untuk pra Brahmana, Ksatrya dan Waisya yang tidak mampu mengendalikan diri, 22) Ksarakardanam untuk mereka yang angkuh, sombong dan menghina orang lain, 23) Raksobhaksam untuk mereka yang memakan daging, 24) Sulaprotam untuk mereka yang membunuh orang yang tidak berdosa kepadanya, 25) Dandasukam untuk merek ayng menyiksa binatang seperti ular beracun, 26) Vatarodham untuk mereka yang menyiksa binatang yang ada di puncak-puncak gunung, di tengah-tengah hutan yang lebat, di lubang-lubang pohon, 27) Paryawartanakam untuk mereka yang menolah tawaran makan ketika saatnya makan dan melakukan kekejaman, 28) Sucimukham untuk mereka yang pelit dan tidak mau menyimpn uangnya walaupun untuk keperluan yang paling sederhana dalam hidupnya.
c. Karmaphala
            Ajaran tetang karmaphala inidiuraikan oleh beberapa kitab Purana yang menurut Visnu Purana adalah hal yang sangat penting dalam ajaran Agama Hindu. Karaa terbagi menjadi 2 menurut Visnu Purana yaitu Pravrtti dan Nivrtti yaitu jalan umum dan jalan khusus, Karmayoga dan Jnanayoga. Terdapat 7 jenis Karma yang baik (Subhakarma) yaitu tapa, brahmacarya, yajna, sradha, vidya dan dana. Demikian pula dengan karma buruk 9Asubhakarma), terdapat 5 macam yaitu membunuh, mencuri, menyiksa, melukai, minum-minuman keras dan tidakmampu mengendalikan hawa nafsu. Dalam Vayu Purana dijelaskan bahwa kelahiran kembali setelah kematian tergantung pada Karma.
            Selnajutnya dalam Matsya Purana disebutkan tentang adanya 4 macam karma yaitu mempersembahkan Agnihotra, melaksanakan Dhyana, Svadhyaya (belajar kitab suci), dan melakukan upacara korban, jika dtidak dilaksanakan dengan baik akan memperoleh kekhawatiran. Manusia terikat siklus kelahiran kembali karenamasih terikat dengan keinginan-keinginan yang mempengaruhi kraa baik maupuan buruk, dan karma adalah teman yang paling setia karena dia setia menemani roh sampai ke akhirat.
d. Samsara
            Samsara adalah teori tentang kelahiran kembali seseorang atau makhluk hidup setelah kematian. Dalam kitab-kitab Purana banyak diuraikan tentang adanya kelahiran kembali tersebut. Vettam Mani dalam Titib, 2004 : 277 merangkum teori tentang kelahiran kembali dengan mengambil sumber kitab suci Veda, Chandogya dan Svetasvatara Upanisad, Bhagavadgita dan Bhagavata Purana sebagai berikut :
     1) Kematian adalah ketika jiwatma (roh) seseorang meninggalkan badannya dengan segala upadhi (sifat-sifat dan pembawaanya) yang terdiri dari : a) pikiran dan indria, b) Prana yaitu Apana, Upana< Vyana dan Samana, c) Suksmasarira yaitu badan halus yang tidak terlihat oleh mata, d) Karma yaitu perbuatan. Kondisi tersebut disebut dengan mati.
     2) Setelah kematian ketika roh meninggalkan badan dengan upadhinya, dan roh tersebut menjadi aktif kembali serta aktivitas dan gerakanya tergantung kepada roh ketiak masih hidup di dunia.
e. Moksa
            Moksa dapat diartikan sebagai tiadanya keterikatan atma danbersatu dengan Brahman. Dalam Brahmanda Purana disebutkan 3 tingkatan moksa oleh orang yang melihat kebenaran yaitu : 1) Kelepasan dari keterikatan Ajnana, 2) Hancurnya keterikatan yang sangat mendalam, 3) Menghancurkan kehausan seperti keterikatan terhadap keduniawian. Para Rsi mengatakan bahwa Jivatma adalah kebahagiaan di dalam dirinya sendiri yang lahir berulang-ulang danmencari kebahagiaan dimana-manam seperti halnya seseoran yang menggunakan perhiasan kalung yang terbuat dari emas, namun ia mencarinya kemana-mana. Jiwatma lahir kembali adalah karena keterikatannya kepada keduniawian. Ketika Jiwatma terikat dalam ikatan samsara, namun memperoleh engetahuan yang sejati, maka ia akanmemahami bahwa Jiwatma dan Paramatma adlah satu dan sama, saat itulah jiwatma akan memperoleh kelepasan yang terakhir, bebas dari ikatan keduniawaian.
3.1.2.   Tata Susila (etika)
                        Dasar dari etika dan moralitas Hindu adalah keyakinan yang mendalam  terhadap kelahiran kembali yang merupakan rangkaian hukum karma. Perbuatan baik akan menghasilak pahal yang baik dan menghantarkan roh mencapai sora ataupun mencapa penyatuan dengan Brahman, sedangkan perbuatan buruk tentunya menghasilkan pahal yang buruk pula dan mengantarkan roh menuju neraka yang penuh denna berbagai macam siksaan.Dalam kitab-kitab Purana banyak menguraikan tentang ajaran tata susila dan moralitas dengan mengambil kisah-kisah orang suci dan orang-oran yang memiliki budi pekerti luhur sehingga bisa dijadikan teladan dalam kehidupan saat ini. Selain itu juga diuraikan tentang bagaimana seharusnya berbuat ketika menjadi seorang manusia dengan tugas dankewajiban yang sudah digariskan menurut konsep catur warna. Dalam kitab-kitab Dharmasastra juga dijelaskan tentang tugas-tugas manusia  seperti seorang rohaniawan harus melakukan pertapaan, melakukan pengendalian diri atau Panca Yama dan Niyama Brata, tidak menyakiti makhluk lain, tidak berjudi, jujur, tidak angkuh, mempraktekkanberbagai pantangan dan mengendalikan indria serta mempelajari kitab-kitab suci. Demikian ajaran tata susila yang secara umum tertuang dalam kitab-kitab Purna maupun kitab Dharmasastra yang bisa dijadikan pedoamn dan teladan dalam menjalani kehidupan dewasa ini. Keyakinan akan ajaran karmaphala serta usaha untuk mebebaskan diri dari ikatan duniawi merupakan landasan tata susila danmoralitas dalam Agama Hindu.
            Dalam kitab-kitab Purana juga dibahas mengenai 4 tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusa Arha terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Dharma sebagai dasar yang kuat dalam ajaran Agama Hindu diulas dalam kitab-kitab Purana. Semua perbuatan baik atau buruk menghasilkan pahala baik dan buruk pula. Semua perbuatan tetunya harus didasarkan pada Dharma itu sendiri agar mendapat pahala yang baik pula, karena di dalam itab-kitab Purana banyak diuraikan tentang jenis dosa dan hukumannya yang mengerikan. Tidak ada topik yang khusus tentang artha atau harta benda dalam kitab-kitab Purana, hanya dalam kitabAgni, Garuda dan Matsya dijekaslan tentang obat-obatan, ilmu peternakan, arsitektur, ilmu tentang permata, astrologi dan tata bahasa. Dalam Bhagacata Purana, menyatakan bahwa Kama muncul dari hati Dewa Brahma, perlu dikendalikan terutama bagi para Grhasta, dan bila manusia tidak mampu mengendalikannya, manusia itu ibarat seekor anjing. Moksa sebagai tujuan terakhir dari Umat Hindu khususnya, sebagai bentuk penyatuan atman dengan paramatman atau Brahman.moksa adalah pembebasan untuk mencapai kebahagiaan sejati atau satcitananda. Ada dua jalan menuju embebasan ini yaitu melaui yoga  atau pertaaan sempurna dan melalui jalan bhakti atau cinta kasih yang murni. Dala kitab Vayu, Brahma Visnu dan Linga Purana banyak menguraiakan tentang ajran yoga tersebut.
            Selanjutnya tentang Catur Warna atau empat profesi manusia denga tugas dankewajiban masing-masing yang telah diatur. Kitab-kitab Purana seperti Visnu dan Agni Purana menjelaskan tentang Catur Warna yang diciptaka pleh Brahma yaitu Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra serta menyerahkan tugas, kewajiban dan prosedur hukum kepadanya. Dalam visnu Purana dijelaskan bahwa Brahma telah siap sedia melaksanakan ciptaan, mengkonsentrasikan pikiran kepada Paramatma. Pertama yang lahir dari wajahnya adalah manusia dengan kelebihan pada keluhuran budi pekertinya, kemudian diberi nama Brahmana. Selanjutnya muncul dari dadanya manusia yang memiliki sifat-sifat yang menonjol dalam kepahlawanan dan militansi dan diberi nama Ksatrya oleh Brahma. Kemudian dari pahanya lahir manusia dengan sifat rajas dan tamas nya sama-sama dominan, kemudian diberi nama Vaisya dan akhirnya dari kaki Brahma muncul manusia dengan sifat-sifat tamas dankepadanya diberi nama Sudra. Demikianlah keepat profesi tersebut sudah memiliki tugas dan kewjiban masing-masing, yaitu Brahmana sebagai pemimpin upacara yadnya, mempelajari kitab suci dan menyebarkan ajarannya, Ksatrya sebagai pembela negara, berada di garda depanketika terjadi peperangan, Vaisya sebagai pedagang, dan Sudra yangbertugas melayani ketiga golongan tersebut. Selain dalam kitab-kitab Purana, konsep Catur Varna juga tertuang dalam kitab-kitab Dharmasastra seperti Manawa Dharmasastra.
3.1.3.   Acara Agama
                        Selanjutnya pokok-pokok ajaran dalam Purana antara lain menyinggung mengenai Sadacara. Sadacara berarti tradisi yang baik dan benar yang telah diterima secara turun temurun. Sadacra ini merupakan penjabaran atau bentuk praktis pengamalan ajaran suci Weda. Saptasri  (tujuh orang pertapa suci kedewataan), Prajapati (devata pencipta semua mahkluk) dan Manu (cikal bakal manusia) adaah orang-orang yang senantiasa berbuat danberprilaku baik. Dalam Visnu Purana diceritakan seorang pertapa bernama Aurya menasehati Raja Sagara tentang pedoman-pedoman yang baik yang patutu diikuti oleh orang-orang yangberbudaya. Dalam kitab-kitab Purana banyak disebutkan tempat-tempat suci seperti tepi sungai Gangga, Gunung Mahameru, yang dipercaya sebagai tempat bersthananya para devata. Selanjutnya juga diuraikan tentang upacara Panca yadnya yang terdiri dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
            Hari raya suci Agam Hindu di India sama halnya dengan hari suci di Indonesia, ada beragam hari besar keagamaan yang dirayakan disana. Hari raya tersebut dibedakanmenjadi 3 kelompok , yaitu : 1) Hari-hari pesta keagamaan, yang dilakukan dengan meriah, 2) hari peringatan kelahiran tokoh-tokoh suci yang disebut Jayanti tau Janmasthani, 3) Hari untuk melaksanakan Brata atau Upavasa. Sumber dari hari raya tersebut adalah kitab-kitab Purana yang samai saat ini masih diwarisi dan dirayakan di India. Peringatan hari raya Sivaratri di Indonesia sumbernya adalah sama yaitu kitab-kitab Purana. Pemujaan kepada Siwa mulai menonjol ketika dituliskannya kitab-kitab Purana. Dalam kitab suci Weda, pemujaan kepada Siwa belum begitu menonjol, akan tetapi dalam kitab-kitab Purana, kedudukan dewa-dewa yang dominan dalamVeda seerti Agni, Indra, Vayu dan Surya digantikan oleh Brahma, Visnu dan Siva. Kakawin Sivaratrikalpa yang mengulas tentang Sivaratri di Indonesia memiliki kandungan isi ang mendekati isi kitab Padmapuran dibandingkan kitab yang lain seperti Skandapurana, Sivapurana, Agnipurana dan Garudapurana.
            Selanjutnya dalam kitab-kitab Purana juga diuraikan tentang Saraswati. Beliau digambarkan sebagai nama sungai maupun sebagai dewi kebijaksanaan. Tentang asal usul kelahiran Dewi Saraswati digambarkan dalam kitab-kitab Purana antara lain : Brahmavaivarta, Matsya, Padma, Vayu dan Brahmanda Purana yang pada prisnsipnya beliau adalah sakti dari Dewa Brahma. Dalam Brahmavaivarta Purana disebutkan bahwa Saraswati keluar dari mulut Paramatman. Menurut Matsya Purana, beliau muncul dari Dewa Brahma. Lebih jauh dalam kitab-kitab Purana disebutkan kendaraan Dewi Saraswati adalah angsa. Dalam Matsya disebut duduk diatas padma “kamalasana”




3.2. Ajaran Tata Susila di dalam Purana yang Dapat Dijadikan sebagai Media Pendidikan Agama Hindu dalam Lingkungan Keluarga
                        Purana sangat kental dengan nilai-nilai tata susila yang dapat dicermati dari kisah-kisah para rsi dan orang-orang bijaksana dengan sejumlah prilaku mereka yang patut diteladani. Berikut adalah beberapa kajian nilai-nilai tata susila yang dapat dijadikan media pendidikan Agama Hindu dalam Lingkungan Keluarga :
         a. Kisah Brahmana Somasarma
                        Terdapatlah seorang brahmana bernama Somasarma yang tinggal di sebuah tirtha (tempat suci) yang bernama Vamana tirtha di pinggir Sungai Reva. Istrinya bernama Sumana. Somasarma dan Sumana adalah pasangan yang miskin. Mereka juga tidak memiliki seorang anakpun. Inilah yang membuat Somasarma selau sedih. Sumana kemudian menyarankan suaminya meminta nasehat Rsi Vasistha. Barangkali sang rsi bisa membantu agar mereka bisa memiliki seorang putra.
                        Somasarma kemudian pergi ke pertapaan Rsi Vasistha. “Mengapa hamba ini miskin dan mengapa hama tidak memiliki seorang putrapun?” demikian pertanyaannya.                 “Kau miskin karena dosa-dosa yang kau lakukan di masa yang lalu” jawab sang rsi”. Aku akan menceritakannya padamu.
                        Dalam kehidupanmu yang lalu, engkau telah terlahir sebagai seorang sudra (Warna keempat dalam kepercayaan Hindu). Engkau telah menghabiskan masa hidupmu dengan bertani dan beternak dan telah memiliki banyak kekayaan. Namun engkau tidak pernah menyumbangkan sedekah, dan juga tidak mau mendengarkan sastra dankitab suci ataupun bertirthayatra ke tempat-tempat suci. Engkau telah terobsesi untuk mengumpulkan kekayaan, karena dosa inilah engkau terlahir sebagai orang yang miskin dalam kehidupan sekarang. “Tapi jika semua yang telah hamba lakukan adalah dosa, maka bagaimana hamba bisa terlahir sebagai seorang Brahmana sekarang ini?” tanya Somasarma. “ mengapa hamba tidak terlahir sebagai sudra lagi?”.
                        “Kau terlahir sebagai seorang brahmana karena kau telah melakukan beberapa perbuatan baikdalam kehidupanmu yang lalu, aku akan menceritakanya.
                        Diceritakan ketika engkau terlahir sebagai seorang sudra, ada seorang brahmana terpelajar pemuja Visnu datang kepadamu sebagai seorang tamu terhormat. Suklapaksa adalah pertengahan bulan, periode dimana bulan bersinar penuh dan ekadasa tithi adalah hari kesebelas dalam satu bulan. Keeseokan harinya, dari saat sang brahmana itu datang, adalah hari hari ekadasi dan sang brahmana melakukan segala vrata yang diwajibkan untuk hari itu. Melihat brahmana yang melakukan ritual uasa dan segalanya, engkau juga ikut melakukan vrata itu, karena perbuatan itulah engkau terlahir sebagai seorang brahmana di kehidupan sekarang. Yang harus kau lakukan sekarang adalah berdoa kepada Visnu, karen ahanya Visnu lah yang bisa membantumu dan memberikan seorang putra kepadamu.
                        Somasrma dan Sumana kemudianpergi ke pinggir Sungai Reva ke sebuah tirtha bernama Kapilasangama. Merekapun mulai berdoa kepada Visnu, ada banyak sekali godaan ketika Somasarma bermeditasi yang hampir membuatnya putus asa, ketika tiba-tiba disampingnya ada seeokor ular berbisa, binatang buas, hantu dan raksasa. Namun ia tidak memerdulikannya. Panas dingin danhujan membuatnya menderita, namun ia tidak tergoyahkan.
                        Visnu akhirnya berkenan danmuncul di depan Somasarma. Beliau berwarna biru dan memakai busnaa kuning. Kedua matanya seperti bunga teratai dan beliau membawa banyak senjata di tanganNya.
                        Aku berkena dengan doamu”sabda sang Wisnu”. Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apakah kau ingin meminta suatu anugrah?”
                        “Ya benar, hamba ingin meminta sesuatu” jawab Somasarma. Mohon berikanlah hamba anugrah dimana hamba bisa selalu patuh dan setia pada anda. Mohon pastikanlah hamba agar tidakmiskin lagi, danmohon berikanlah anugrah agar hamba bisa memiliki seorang putra yang akan selalu setia memuja anda.”
                        Visnu kemudian menjamin semua permintaan itu. Maka akhirnya seorang putra bernama Suvrata terlahir pada Somasarma dan Sumana.

         b. Kisah Suvrata
                        Bertahun-tahun yang lalu, seorang raja bernama Rtadhvaja memerintah di kerajaan Vidisa. Putra Rtadhvaja adalah Vali dan putra dari Vali bernama Rukmangada.
                        Rukmangada memiliki seorang istri bernaa Sndhyavali dan melahirkan anak bernama Dharmangada. Anak ini adalah pemuja Visnu yang taat hingga setelah kematiannya ia langsung dijemput menuju alam Visnuloka. Ia berada di surga selama seribu Yuga dan setelah itu iapun terlahir menjadi Suvrata.
                        Pada usia yang sangat dini, Suvrata telah mulai terbiasa berdoa kepada Visnu. Ia menamai teman-temannya dengan berbagai nama Visnu. Jika larut dalam meditasi, ia kadang-kadang sampai melupakan lapar dan haus. Ketika ia tumbuh dewasa, ia kemudian pergi ke Gunung Vaidurya di pinggir sungai Narmada. Ia bermeditasi disana selama seratus tahun, dan Visnu memberikanya anugrah bahwa ia dan keluarganya akan dibawa ke Visnuloka dan dihup disana selama kurun waktu yang lama.

         c. Kisah Sunitha
                        Yama adalah dewa kematian. Ia juga dikenal sebagai Mrtyu, Kala atau Dharma. Semua pendosa mendapat hukuman dari Yama. Yama memiliki seorang putri bernama Sunitha.
                        Sunitha memiliki kebiasaan pergi ke hutan bersama teman-temannya. Di tengah hutan ia kebetulan melewati sebuah pertapaa. Seorang Gandharva (penyanyi surga) bernama Susankha sedang sibukbermeditasi dalam pertapaan itu.
                        Sunitha berusaha menggangu Susankha yang bermeditasi , namun sang Gandharva tidak memperdulikan mereka. Ia hanya meminta Sunitha agar segera menjauh. Meskipun amarhnya diungkit-ungkit ia memaafkan Sunitha. Karena dia hanyalah seorang wanita. Namun Sunitha tidakmau pergi. Dia sangat angkuh pada kenyataan bahwa dirinya adalah putri Dewa Yama. Kemudian dia menampar Susankha, dan menerima perlakuan seperti itu, Susankha menjadi kehilangan kesabaran.
                        “Kau benar-benar wanita jahat, kata Susankha. “Kau pantas dihukum. Aku telah berusaha keras melakukan meditasi dan kau berusaha menggangguku. Aku mengutukmu bahwa putramu akan menjadi sangat jahat.
                        Dalam waktu yang sama, terdapatlah seorang raja bernama Anga yang merupakan putra dari Rsi Atri.suatu kali, Anga kebetulan berjalan-jalan di sebuah taman bernama Nandanakanana dan disana ia melihat Indra. Indra sedang dilayani oleh dewa-dewa lain, gandharva dan para bidadari. Melihat hal ini, Anga menjadi sangat terkesan dan ia berhasrat memiliki seorang putra sehebat Indra. Ia kemudian menanyai ayahandanya “Bagaimana hamba bisa memilki putra yng sehebat Indra.
                        “Kau harus berdoa kepada Visnu”jawab sang rsi. Angakemudian pergi ke Gunung Sumeru untuk bermeditasi. Di puncaknya terdapat banyak pertapaan yang sering dikunjungi leh para dewa dan rsi, dan dari Gunung Sumeru itulah Sungai Gangga mengalir. Anga berhasil menemukan sebuah gua yang cukup rindang dansejuk di pinggir Sungai Gangga dan mulai berdoa kepada Visnu. Anga bermediasi selama seratus tahun, dan banyak godaan yang dialami selama bermeditasi. Akhirnya Visnu muncul dan bersabda”Tapa doamu telah membuatku berkenan, anugrah apa yang kau minta?”
                        Hamba ingin memiliki seorang putra yang sakti dan baik hati, jawab Anga. “terjadilah apa yang kau inginkan “sabda Sang Visnu.” “Carilah seorang wanita yang baik dan nikahilah dia, maka putramu akan menjadi termashyur dalam garis keturunan Atri.
                        Sementara itu, Sunitha pergi dan kembali kepada ayahandanya yaitu Dewa Yama danmemberitahu tentang kutukan Susankha padanya dan Yama menjadi dilema. Beliau menyadari bahwa Sunitha telah melakukan perbuatan yang paling tidak pantas yaitu menggangu tapa sang Gandharwa. Yama menyuruhnya untuk melakukan tapa di hutan. Dengan meditasi itu maka akibat dari kutukan itu bisa diperingan. Namun tetap saja berkembang situasi dimana tidak seorangpun mau menikahi Sunitha, karena semua orang tau tentang kutukan Susankha dan diapakah yang mau menikahi seorang wanita yang melahirkan seorang anak yang jahat.
                        Namun Sunitha memiliki beberapa teman, dan teman-temannya itu mengajarkannya seni menarik perhatian laki-laki. Mereka juga telah mengetahui ahwa raja Anga mendapatkan anugrah dari Visnu, bahwa ia akan memiliki seorang anak yang sakti dan baik hati. Mereka menganggap bahwa anugrah Visnu itu akan meredam akibat kutukan dari Susanha danmenjanjikan bahwa Anga bisa dibujuk untuk meniahi Sunitha.
                        Sunitha pun mulai aksinya untuk membuat raja Anga tertarik padanya, dan diapun berhasil membuat Raja Anga jatuh cinta dan menikahinya. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak bernama Vena.
                        Vena kemudian menjadi terpelajar dalam sastra dan kitab suci serta mahir dalam seni perang. Ia menjadi anak yang baik dan mematuhi semua ritual dan aturan agama. Sunitha, ibunya masih teringat akan kutukan Susankha, dan ia terus mengajarkan Vena tentang kewajiban untuk hidup dalam kebaikan dan selalu berusha membuat Vena tidakmenjadi anak yang jahat. Vena akhirnya menggantikan ayahnya menjadi raja.
                        Kemudian suatu hari datanglah seorang guru agama mengunjungi Vena dengan penampilan yang aneh, tana busana dan membawa sebuah sapu yangterbuat dari bulu merak serta cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa.
                        “Siapakah anda? tanya Vena” Aliran apa yang anda ikuti.
                        “Aku menganut agama sejati,jawab guru itu, Aku seorang jain, Dewaku adalah Arahat dan aku mengajarkan agama pengampunan pada semua orang”. “Aku tidak mempercayai ritual-ritual yang tidak berguna ataupun pembacaan Veda-Veda. Apa yang bisa didapat dari Yajnya, semua itu hanyalah agar para brahmana selalu mendapat perjamuan pesta. Agama Veda mengajarkan pembunuhan binatang, tapi apakah binatang juga bukan makhluk hidup seperti kita? Apa pula yang dimaksud dengan sistem kasta yang kalian anut, Seorang Brahmana ditetukan oleh sikap dan prilakunya, bukan karena keturunannya. Bagaimana sebuah sungai bisa dikatakan sebagai tirtha (tempat suci). Apakah karena ada air yang mengalir? Bukan. Sebuah tirtha hanya bisa dikatakan tirtha dimana agama benar-benar dipraktekkan, anutlah agamaku maka kau akan mendapatkan kebahagiaan.
                        Kata-kata yang sepintas masuk akal itu akhirnya mempengaruhi Vena. Ia mulai menjadi semena-mena, menlenceng dari kebenaran, ia meninggalkan agama yang diajarkan oleh Veda. Ia memerintahkan bahwa kitab Veda tidak boleh lagi dibaca diseluruh kerajaannya dansemua yajnya dihentikan, pemberian sedekah juga dilarang. Hal ini membuat Anga dan Sunitha merasa terganggu dan dilema. Sapta rsi berusaha membujuk Vena tapi dia tidakmau mendengarkannya. Ia berkata bahwa tidak ada gunanya berdoa kepada para dewa, kata-kata itu membuat murka ketujuh rsi. Vena takut akan kutukan rsi dan melarikan diri ke pegunungan yang tersembunyi, namun para rsi menemukannya dan menyeretnya keluar. Para rsi kemudian memutuskan untuk menunjuk orang lain menggantikan Vena, namun masalahnya adalah Vena tidak memiliki keturunan.         
                        Para rsi kemudian mengurut-urut tubuh Vena agar bisa terlahir seorang putra. Yang pertama diurut adalah tangan kirinya, dan hasilnya adalah seorang anak cebol muncul dengan tubuh berwarna gelap. Matanya berwarna merah darah dania adalah mahkluk jahat. Ia berdiri di hadpan para rsi. Para rsi berkata “Nisida” artinya duduk, dari kata inilah, manusi cebol itu diberi nama Nisida. Ia dan keturunnya menjadi generasi para pemburu dan nelayan yang tingal di pegunungan Vindhya. Sifat jahat Vena telah keluar dari tangan kirinya itu. Ketika tangan kanannya diurut, maka keluarlah seorang anak yang baik hati bernaa Prthu.
                        Sedangkan Vena sendiri , ia pergi kepinggir selatan Sungai Reva, Vena tinggal disebuah pertapaan rsi Trinavindu danmulai berdoa kepada Visnu. Visnu kemudian muncul di depan Vena dan memberinya banyak nasehat dan wejangan.

         d. Kisah Pippala dan Sukarma
                        Rsi Kasyapa memiliki seorang putra bernama Pippala. Pippala menginginkan kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapapun di alam semesta ini. Oleh karena itulah kemudian ia pergi ke hutan Dasaranya danmulai bermeditasi disana.demikianhebatnya tapa itu hingga para dewa dan rsi terpana ole pemandangan itu. Seribu tahun telah berlalu, semut-semut mulai membukit di sekitar pippala, namun ia tetap tak tergoyahkan. Pippala hanya menghirup udra untuk makanannya. Setelah tiga ribu tahun berlalu, para dewa terkesan dan bersabda “kami sangat terkesan dengan meditasimu, mintalah apa yang kau inginkan”
                        “Hamba menginginkan kekuatan yang membuat segala benda dan makhluk di alam semesta ini mematuhi keinginan dan kehendak hamba” kata Pippala.
                        Para dewa memberikan anugrah itu.
                        Pippala sangat bangga denga anugrah itu. Tentu saja tidak ada orang ataupun makhluk di alam semesta ini yang sanggup menandingi kekuatanku, pikirnya.
                        Seekor burung bangau berdiri di telaga itu dan burung itu dapat mengetahui apa yang ada dalam pikiran Pippala. “Kau bodoh” kata burung itu kepada Pippala. “Mengapa kau begitu bangga dengan dirimu? Aku tidak melihat bahwa kau telah mendapatkan segalanya. Kau telah membuang-buang waktu selama 3000 tahun dalam tapasya. Sukarma jauh lebih terpelajar darimu, dan dia tidak pernah melakukan tapa yang sulit untuk menjadi terpelajar.
                        Pippala sangat heran mendengar seekor burung bangau berbicara seperti manusia”Siapa sebenarnya kau?”tanyanya. “Apakah kau Brahma, Visnu atau Siwa?”
                        “Mengapa kau tidak pergi dan menanyakan siapa diriku pada Sukarma?” teriak bangau itu, tapi banagu itu juga memberitau Pippala bagaimana menemui Sukarma.
                        Terdengarlah seorang brahmana bernama Kundala dan Sukarma adalah putra beliau. Sukarma menghabiskan waktunya untuk melayani orangtuanya yang sudah amat tua. Inilah satu-satunya tujuanhidupnya.
                        Pippala mencari Sukarma di tempat pertapaa rsi Kundala. Sukarma kemudian menyambut Pipala denga persembahan. “Rsi Agung, kata Sukarma” Hamba benar-benar bersyukur, anda telah datang mengunjungi kami. Hamba tahu mengapa anda datang kemari. Anda telah melakukan tapa selama 3000 tahun dan para dewa telah memberkati anda dengan anugrah dimana anda dapat memerintahkan atau melakukan apapun terhadap semua objek alam semesta sekehendak anda. Namun burung bangau itu mengatakan anda sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa.
                        “Siapakah burung bangau itu?”tanya Pippala.
                        “Burung itu adalah Brahman”jawab Sukarma. Adakah lagi yang ingin anda ketahui?” tanya Sukarma.
                        “Apakah kau juga bisa mengendalikan semua objek di alam semesta?” tanya Pippala penuh penasaran.
                        “”Nilai saja sendiri”, kata Sukarma yang kemudian memanggil para dewa untuk datang kepadanya, dihadapannya.
                        Indra dan dewa-dewa lainnya secara bersamaan muncul dan melakukan anjali pada Sukarma. “Mengapa anda memanggil kami?
                        Sukarma kemudian menjelaskan bahwa ia melakukan semua itu untuk menunjukkan kekuatan yang diperolehnya.
                        Para dewa telah memberkatinya agar selalu setia dalam pengabdian kepada kedua orangtuanya. Sukarma juga mengatakan bahwa semua kekuatannya adalah karena pengabdiannya kepada kedua orangtuanya. Ia tidak pernah melakukan tapasya, ataupun mengulang-ulang mantra tertentu, tidak ada tirtha yang harus dikunjungi, karena punya (pahala) yang didapat dari melakukan Yajnya bisa lebih besar dengan pelayanan secara tulus kepada orangtua. Apa gunanya mempelajari Veda jika seseorang tidak melayani kedua orangtuanya.
                        “Hanya pengetahuan inilah yang bisa hamba bagi dengan anda”demikian Sukarma memberitahu Pippala.
        
         e. Kisah Sang Candala dan Brahmaraksasa
                        Seorang Candala adalah orang buangan. Di perbatasan kota Avanti, terdapatlah seorang Candala. Di kota ini terdapat sebuah kuil untuk Visnu dan Candala iniadalah oemuja Visnu, ia juga seorang penyanyi yang hebat. Setiap bulan pada hari ekadasi Sang Candala ini melakukan puasa dan di malam hari iapun pergi ke kuil Visnu untuk menyanyi lagu pujian untuk Visnu. Ia tidak pernah absen untuk melakukan ritual itu.
                        Suatu saat ketika Sang Candala akan pergi ke kuil, tiba-tiba di pinggir sungai Sipra diatas sebuah pohon muncul seorang Brahmaraksasa (jin) dan ingin memakan sang candala
                        “Jangan malam ini, aku harus memuja Visnu sepanjang malam ini, sekarang ijinkanaku pergi, kata Sang Candala” pada awalnya jin itu tidak mengijinkannya pergi, tapi Sang Candala berjanji bahwa ia akan kembali lagi setelah selesai memuja Visnu.
                        Keesoka harinya, ia kembali kepada jin itu untuk memenuhi janjinya.melihat hal itu, jin berkata “aku sungguh terkejut, kau benar-benar seorang yang jujur, kau bukan seorang Candala, kau pasti seorang Brahmana, apa yang kau lakukan semalam, jawablah!
                        “Aku berdiri di luar kuil Visnu dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk beliau, jawabnya. “berapa lama kau telah melakukannya?” tanya sang jin. “Selama 20 tahun”jawabnya.
                        “Kau pasti telah mengumpulkan banyak pahala dengan pengabdian itu,”kata sang jin. “Mohon berikanlah aku pahala pengabdianmu selama satu malam saja, aku adalah seorang pendosa. Pada awalnya Sang Candala menolak memberikan pahalanya, tapi akhirnya dia bertanya, “apa sebenarnya dosa mu?” Sang jin menjawab bahwa dulu dia adalah putra seorang brahmana yang baik hati, namun dia telah melakukan kesalahan besar yaitu dimana seorang brahmana tidak diijinkan untuk menjadi pendeta sebuah upacara kurban sebelum ia mendapatkan upacara pengikatan benang suci (upanayana), tai dia telah menjadi seorang pendeta meskipun upacara upanayana tersebut belum dilakukan. Sebagai hasil dari dosanya itu, setelah ia mati, ia terlahir menjadi seorang brahmaraksasa (jin). Sang Candala merasa iba mendengarnya danbersedia membagi pahalanya agar jin tersebut terbebas dari kutukannya itu.
                        Kemudian Sang Candala kembali ke tempat tinggalnya lau berangkat melakukan ziarah ke semua tempat suci, dan disuatu tirtha ia tiba-tiba teringat akan kisah kehidupannya yang lalu.
                        Dalam kehidupan yang lalu, ia adalah seorang pertapa yang mahir dalam Veda dan sastra. Ia biasanya pergi berkeliling untuk meminta sedekah. Suatu kali ia berhasil mendapatkan sedekah, namun beberapa pencuri yang sedang beraksi mencuri beberapa ekor sapi dan gerombolah sapi itu menimbulkan debu-debu berhamburan dandebu itu jatuh di atas makanan sang pertapa tadi hingga membuat beliau jijik dan membuang makanan itu. Karena dosanya membuang makanan, maka ia terlahir sebagai seoran Candala. Dan setelah melakukan tapa brata untuk menebus dosa itu, maka iapun terbebas dari kutukan itu.












KAJIAN NILAI-NILAI TATA SUSILA DARI CERITA-CERITA YANG TERDAPAT DALAM PURANA TERSEBUT

No.
Judul Cerita
Cerita Singkat
Kajian Nilai-nilai Tata Susila
1.
Kisah Brahmana Somasarma
Seorang Brahmana bernama Somasarma dan istrinya Sumana yang sangat miskin dan tidak memiliki anak. Akhirnya mereka meminta nasehat kepada rsi Wasistha, dan menurut Rsi Wasistha, Somasarma dalam kehidupan terdahulu adalah seorang Sudra yang hanya  menghabiskan masa hidupnya dengan bertani dan beternak dan telah memiliki banyak kekayaan, namun tidak pernah menyumbangkan sedekah, dan juga tidak mau mendengarkan sastra dan kitab suci ataupun bertirthayatra ke tempat-tempat suci. Karena dosa inilah ia terlahir sebagai orang yang miskin dalam kehidupan sekarang. Tapi di kehidupan sekarang ia terlahir menjadi seorang Brahmana karena ia juga ikut melakukan vrata yang dilakukan seorang brahmana sebagai tamu terhormatnya ketika hari ekadasi. Somasarma diperintahkan untuk memohon bantuan kepada Deva Visnu, akhirnya dengan meditasi yang kuat, Dewa Wisnu mengabulkan permohonannya.
1).Ajaran tentang karmaphala ketika seseorang yang tidak pernah bersedekah dan hanya mengejar kekayaan saja, maka dia akan mendapatkan pahala yang buruk, dan ketika melakukan vrata seperti seorang brahmana, maka akan mendapatkan pahala yang baik. 2) Ajaran punarbhawa tentang kelahiran berulang untuk menikmati sisa karma di kehidupan sebelumnya.       3). Widhi tattwa, tentang pemujaan kepada Wisnu (manifestasi Tuhan sebagai pemelihara)
2.
Kisah Suvrata
Suvrata adalah seorang pemuja Visnu yang teguh dan setia. Dalam setiap kesempatan ia selalu berdoa kepada Visnu, bahkan ia menamai teman-temannya dengan gelar Visnu, sehingga dia sangat dekat dengan Visnu dan akhirnya Visnu memberikan anugrah bahwa ia dan keluarganya akan dijanjikan mencapai Visnuloka dan hidup dalam waktu yang cukup lama disana
1) Ajaran tentang Widhi tattwa yaitu pemujaan kepada Wisnu, 2) Ajaran tentang anak yang suputra dengan selalu mengingat nama Tuhan akanmembawa dia dan orangtuanya ke alam Tuhan  juga.
3.
Kisah Sunitha
Sunitha adalah putri Dewa Yama. Suatu ketika dia melakukan sebuah dosa besar yaitu mengganggu meditasi Gandharva bernama Susankha. Sunitha merasa sombong dan terus mengganggu meditasi Susankha lalu menamparnya. Susankha marah dan mengutuk Sunitha bahwa ia akan memiliki anak yang sangat jahat. Sunitha menikah dengan Raja Anga dan memiiliki seorang putra bernama Vena. Pada awalnya Vena adalah anak yang baik, taat menjalankan perintah agama dan mahir dalam peperangan, dania juga yang menggantikan ayahnya Anga menjadi raja. Tapi suatu saat ketika ia bertemu dengan seorang guru beraliran Jain, yang mengatakan bahwa Apa yang bisa didapat dari Yajnya, semua itu hanyalah agar para brahmana selalu mendapat perjamuan pesta. Agama Veda mengajarkan pembunuhan binatang, tapi apakah binatang juga bukan makhluk hidup seperti kita? Apa pula yang dimaksud dengan sistem kasta yang kalian anut,dan lain sebagainya, dan akhirnya setelh mendengan doktrin seperti itu, Vena  mulai berubah menjadi anak yang semena-mena, meninggalkan ajaran agama yang diajarakan dalam kitab Veda. Raja Anga, Snitha dan 7 rsi merasa terganggu dengan hal ini. Vena dikejar oleh para rsi dan rsi ingin mengeluarkan sifat jahat dalam tubuh Vena, akhirnya mereka memijat tangan kiri Vena dan keluar manusia cebol yang sangat jahat bernama Nisida, kemudian dari tangan kanan Vena keuar anak yang sangat baik bernama Prthu.
1)Ajaran tentang kesopanan, tidak boleh menggangu orang yang sedang berdoa, karena pahalanya tidak baik pula, tidak boleh sombong dan angkuh, tidak boleh semena-mena terhada orang lain, 2).  Widhi tattwa tentang pemujaan kepada Visnu, dan kedisplinan dalam pemujaan kepada Tuhan sehingga apa yang kita mohon dikabulkan, 3). Sebagai seorajng anak harus taat dan patuh tidak hanya kepada orang tua, tapi juga kepada ajaran agama yang tertuang dalam kitab suci, jangan melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama karena berakibat tidak baik, 4) Seorang pemimpin harus mampu melinduni dan menjadi teladan rakyatnya, 5) Seorang penganut agama Hindu harus yakin dengan ajarannya dengan cara membaca kitab-kitab suci, salah satunya Purana agar keyakinanya tidak mudah goyah.
4.
Kisah Pippala dan Sukarma
Pippala adalah putra dari Rsi Kasyapa yang ingin mendapatkan kekuatan tak terkalahnkan, setelah bertapa selama 3000 tahun lamanya, dia mendapat anugrah dari devata bahwa semua makhluk di alam semesta ini akan tunduk kepada perintahnya. Dia merasa bangga akan hal ini dan beripikir bahwa tidak ada yang bisa menandingi kekuatannya. Pikirannya itu diketahui oleh seekor burung bangau yang tidak ain adalah Brahman. Burung tersebut mengatakan dia bodoh, bahkan dia menyuruh Pippala menemui Sukarma yang jauh lebih pintar meskipun ia tidak melakukan tapa. Pippala menemui Sukarma dan atas permintaan Pippala, Sukarma membuktikan kekuatannya memanggil para dewa untuk hadir di hadapannya. Sukarma menjelaskan bahwa semua kekuatan itu ia peroleh karena pengabdiannya kepadakedua orantuanya. Menurutnya pahala dari pelayanan tulus kepada orangtua adalah sangat besar. Percuma belajar Veda tapi tidak berbakti kepada orangtua, demikian yang disampaikan Sukarma kepada Pippala.
1) Tidak boleh sombong dengan kemampuan atau ilmu pengetahuan yang kita miliki, pergunakan ilmu itu dengan sebaik-baiknya, 2) Widhi tattwa tentang sifat Tuhan yang maha tahu, karena beliau ada dimana-mana dan meresapi setiap ruang, apa yang kita lakukan, pikirkan dan perbuat, Tuhan tahu, manusia tidak bisa berbohong dihadapan Tuhan, 3) Pahala yang sangat besar jika anak berbakti dan memberikan pelayanan tulus kepada kedua orangtuanya, 4) Ajaran agama tidak hanya dipelajari, tapi diterapkan dalam kehidupan nyata.
5.
Kisah Sang Candala dan Brahma raksasa
Seorang Candala sebagai pemuja Visnu yang taat. Dia memuja danmenyanyikan lagu pujian di sebuah kuil Visnu. Suatu saat ketika dia akan menuju kuil dan melintasi sebuah sungai, dia dihadang oleh jin yang tinggl diatas pohon dekat sungai itu. Jin itu ingin memakannya, namun Candala memohon ijin jangan memakannya malam itu karena dia akan memuja Visnu semalam penuh. Keesokan harinya dia datan menepati janjinya menemui jin itu, dan jin tadi heran serta memohon membagi pahala Candala agar dia terbebas dari dosanya. Awalnya Sang Candala menolaknya namun akhirnya memberikan pahalanya kepada jin setelelah mendengar kisah kehidupan jin dikehidupan terdahulu, bahwa ia adalah anak seorang brahmana yang akan menjadi pendeta, namun sebelum menjadi seorang pendetea seharusnya dia melakukan upacara upanayana, tapi ia tidak melakukannya, karena dosanyaitu dia terlahir menjadi jin di kehidupan sekarang. Sang Candala kemudian melanjutkan perjalanannya mengunjungi tirtha,tiba-tiba ia ingat kehidupannya terdahulu bahwa ia adalah seorang pertapa yang berkeliling meminta sedekah. Suatu saat ketika dia sudah mendapatkan sedekha berupa makanan, dan makanan itu terkena debu akibat dari gerombolan sapi yang dibawa lari oleh sekelompok pencuri, akhirnya sang pertapa tadi merasa jijik dan membuang makanan itu. Karena dosanya membuang makanan, maka ia terlahir menjadi seorang Candala kehidupannya sekarang.
1) Ajaran tentang ketaatan seorang pemuja Visnu, karena dengan selalu mengingat Tuhan maka kita akan selalu dilindungi, 2) Ajaran Karmaphla, seorang pendeta harus melewati upacara upanayana sebelum memimpin upacara yajnya, kalau dilanggar, akan memndapatkan pahala yang tidak baik, 3) Ajaran Punarbhawa tentang kelahiran berulang tergantung dari karma kita di kehidupan sebelumnya, apakah akan terlahir menjadi manusia kembali atau, binatang, tumbuh-tumbuhan, makhluk halus, dll. 5) Tidak boleh membuang-buang makanan, karena makanan adalah anugrah dari Tuhan.

Tabel 1 : Kajian Nilai-nilai Tata Susila dari cerita-cerita yang terdapat dalam Purana.


3.3.  Peran Keluarga dalam Pendidikan Agama Hindu
3.3.1.  Keluarga dan Pendidikan Agama HIndu       
            Rendahnya moralitas, etika, prilaku anak disebabkan oleh berbagai aspek atau pengaruh antara lain kurangnya perhatian orangtua terhadap perkembangan pendidikan budi pekerti anak yan bersumber dari ajaran agama. Dewasa ini, tantangan kehidupan beragama dirasakan semakin hari semakin besar, dengan adanya perkembangan teknologi indormasi  yang begitu cepat yang tentunya bersifat keduiawian sangat mempegaruhi pola hidup masyarakat dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, sedangkan kehidupan spiritual mulai dirasakan kurang bermanfaat dan bahkan dilupakan, yang berakibat kepada semakin dangkalnya moral, dan etika atau tata susila sebagian besar masyarakat. Berangkat dari pemikiran tersebut, ada hal penting yang harus mendapat porsi perhatian lebih besar salah satunya adalah dengan menjadikan aspek moralitas dari ajaran Agama Hindu sebagai sumber pendidikan budi pekerti. Pendidikan agama hendaknya dipacarkan dalam budi pekerti anak di dalam keluarga maupun masyarakat. Pendidikan agama khususnya pendidikan moralitas dalam agama sebagai bagian yang terintegrasi dalam pendidikan serta setiap aspek kehidupan yang diberikan oleh orangtua dalam keluarga dan guru sekolah (Titib, 2003 : 91)
            Keluarga mempunyai peran yang sangat penting khususnya dalam proses pendidikan dan perkemnahan anak baik fisik maupun mental spiritual. Pendidikan informal, kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri (UU No. 20 Tahun 2003:17). Kondisi pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti sebagai pelaksanaan pendidikan agama, pada keluarga rupanya perlu mendapat perhatian karena terjadinya pergeseran pola kehidupan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, sehingga pendidikan budi pekerti terabaikan dan pendidikan agama cenderung lebih banyak tekanannya pada ritual yang belum mampu menambah perilaku anak ke arah agamais (Titib, 2003 : 92). Dari hasil kajian beberapa cerita yang terkandung dalam kitab-kitab Purana, diperoleh suatu gambaran tentang ajaran tata susila dan moralitas yang dapat dijadikan media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga. Nilai-nilai yang terkadung di dalamnya, dapat dijadikan pedoman dalam menanamkan dasar-dasar etika atau tata susila dan moralitas kepada anak, agar di dalam kesehariannya mereka mampu menunjukkan jati dirinya sebagai anak yang memiliki budi pekerti luhur dan memiliki tata susila yang baik pula. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa dasar dari etika atau tata susila dan moralitas adalah ajaran Punarbhawa yang berkaitan dengan ajaran Karma Phala yang bersumber dari kitab-kitab suci Agama Hindu, sehingga acuan dari pendidikan budi pekerti dan tata susila dalam Agama Hindu memiliki dasar yang benar dan kuat.

3.3.2.  Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama Hindu
            Dalam mendidik anaknya, orangtua memiliki beragam cara tersendiri, namun ketika orang tua menanamkan ajara tentang nilai-nilai tata susila, salah satu cara untuk menyampaikan ajaran-ajaran terseb ut adalah melaui cerita atau dongeng. Dalam ajaran Agama Hindu khususnya ajaran-ajara tentang dasar-dasar tata susila tersebut bisa ditemukan dalam cerita-cerita yang terkadung dalam kitab-kitab Purana. Orang tua bisa memanfaatkan cerita-cerita tersebut dalam menyampaikan pendidikan budi pekerti dan tata susila kepada anak dengan gaya bahasa sendiri agar anak juga mudah mengerti dan mampu memahami maksud dari cerita itu. Penyampaian cerita-cerita dalam Purana tersebut sebagai media pendidikan dalam Agama Hindu karena di dalam cerita-cerita tersebut terkandung berbagai nilai tata susila dan lain sebagainya, selain sebagai salah satu media untuk membantu kemajuan perkembangan pribadi anak yang dalam hal ini adalah menyangkut perkembangan psikologi anak, yang diaktualisasikan melalui berbagai perkembangan misalnya saja perkembangan daya cipta anak yang kesemuanya ini akan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan anak selanjutnya (Soemadi, Soerjabrata, 1969 : 25).
            Selain itu, enyampaian cerita-cerita tersebut akan memberikan pengaruh pada perkembangan psikologi anak terutama akan :
            1. Melatih daya tangkap anak.
            2. Melatih daya pikir.
            3. Melatih daya konsentrasi.
            4. Membantu perkembangan fantasi atau imajinasi anak.
            5. Menciptakan suasana yang menyenangan dan akrab antara penyaji dan pendengar (Soemadi, Soerjabrata, 1969 : 25).
            Dalam melaksanakan pendidikan, baik pendidikan umum, budi pekerti atau pendidikan agama, seorang pendidik (orang tua dirumah, guru disekolah) hendaknya dapat memahami karakter dari anak sehingga transmisi ilmu dapat berlangsung secara maksimal. Pendidik dapat memberikan sebanyak mungkin cerita-cerita dalam Ithiasa maupun Purana, karena dari kegiatan itu dapat dipetik beberpa hal pokok diantaranya perilaku yang baik, kedamaian, kebenaran, dan cinta kasih. Untuk itu hendaknya para pendidik, khususnya orang tua dalam hal ini menggunakan media cerita-cerita dalam Purana tersebut dalam mentrasfer nilai-nilai agama, moral, etika ataupun tata susila kepada anak.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1.  Simpulan
            Purana merupakan salah satu kitab suci Agama Hindu yang berisikan sejarah dan cerita tentang kejadian-kejadian masa lalu, kehidupan para rsi, para dewata, awal mulanya terjadi alam semesta,  manusia dankehidupan di dunia. Dalam kitab-kitab Purana dijelaskan tentang Tri Guna Purusa Avatara yakni Brahma, Visnu dan Siwa yang merupakan manifestasi utama dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, yang  memiliki fungsi yang penting dalam proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alams emesta beserta isinya, serta dijelaskan pula tentang atribut yang digunakan, wahana yang dikendarai, awal munculnya dewa-dewa tersebut, dan lain-lain. Dalam kitab-kitab Purana juga diuraikan pokok-pokok ajaran Agama Hindu diantaranya tentang Panca Sradha yaitu Brahmawidya, Atmawidya, Karmaphala, unarbhawa dan Moksa. Dibahas pula ajaran tentang dasar-dasar etika atau tata susila, Catur Purusa Artha dn Catur Warna, kemudian dijelaska pula tentang sadacara, tempat-tempat suci, upacara Panca Yadnya, Hari-hari Suci, Siwaratri, Saraswati, dan lain sebagainya.
            Cerita-cerita dalam kitab-kitab Purana yang berisikan ajaran tata susila tentunya dapat dijadikan sebagai media pendidikan Agama Hindu dalam lingkungan keluarga, khususnya ntuk menanamkan ajaran tata susila, budi pekerti kepada anak. Adapun cerita-cerita yang dapat dijadikan media pendidikan Agama Hindu diantaranya adalah : Kisah Brahmana Somasarma, Kisah Suvrata, Kisah Sunitha, Kisah Pippala dan Sukarma serta Kisah Sang Candala dan Brahmaraksasa,yang secara keseluruhan mengajarkan tentang nilai-nilai tata susila, karmaphala, punarbhawa, tentang keyakinan dan ketaatan dlam memuja Tuhan melalui manifestasi beliau, dan lain sebagainya. Masih banyk lagi cerita-cerita lainnya yang kental dengan ajaran tata susila.
            Orang tua dalam hal ini cukup berperan dalam mentranfer ilmu ataupun nilai-nilai agama melalui cerita-cerita tersebut karena hal itu dapat membantu perkembangan psikologi anak diantaranya membantu       melatih daya tangkap anak, melatih daya pikir, melatih daya konsentrasi, membantu perkembangan fantasi atau imajinasi anak, menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab antara penyaji dan pendengar. Orang tua dapat menyampaikannya ketika anak akan tidur, saat anak istirahat bermain, ketika anak menangis untuk menenangkan perasaannya, dan lain sebagainya. Diharapkan mealui media ini, anak akan tumbuh menjadi anak yang cerdas intelektual, spiritual dan emosial serta memiliki budi pekerti yang luhur.
4.2.  Saran
            Mengingat cerita-cerita yang terkandung di dalam Purana tersebut mengandung ajaran-ajaran tentang tata susila khusuny dalam upaya memotifasi perkembangan anak, maka diharpkan :
            1. Kepada orangtua terutama yang mempunyai anak usia dini dapat lebih aktif memberikan cerita-cerita seperti yang terkandung dalam Purana kepada anak-anaknya,
            2. Agar kegiatan ini dapat terus dilestarikan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
           





DAFTAR PUSTAKA

Debroy Bibek, dan Dipavali Debroy. 2001. Padma Purana. Surabaya, Paramita.

Debroy Bibek, dan Debroy Dipavali. 2000. Brahma Purana. Surabaya, Paramita.
Kajeng,  I Nyoman, dkk. 1997. Sarasamuccaya, Surabaya, Paramita.
Mantra, Ida Bagus. 1982. Tata Susila Hindu Dharma. Jakarta, Parisada Hindu Dharma Pusat.
Pudja, G. 2002. Bhagawadgita (Pancamo Veda), Jakarta, Pustaka Mitra Jaya.
Pudja, G. dan Tjokorda Rai Sudharta. 1976. Manava Dharma Sastra. Jakarta, Co.Junesco.
Suhardana, K.M. 2006. Memaknai Kesejagatan Hindu.. Denpasar, PT. Empat Warna Komunikasi.

Soemadi, Soerjabrata. 1969. Psikologi Perkembanan II. Yogyakarta, Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Titib, I Made. 2004. Purana, Sumber Ajaran Hindu Komprehensip. Surabaya, Paramita.
Titib, I Made. 2003. Menumbuhkembangkan Pendidikan budhi Pekerti pada Anak (Perspektif Hindu). Jakarta, Ganeca Exact.

Yayasan Dharma Sarathi. 1992. Upanisad Utama. Jakarta
Yayasan Sanatana Dharmasrama Surabaya.2003.Intisari Ajaran Hindu. Surabaya, Paramita.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar